Sabat (hari ke-7) sering dianggap sebagai institusi religius yang sepenuhnya unik milik Israel. Namun, studi sejarah Timur Dekat Kuno menunjukkan bahwa akar konsep “hari khusus yang datang secara berkala” sudah dikenal jauh sebelum bangsa Israel muncul sebagai entitas nasional. Pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah bangsa-bangsa sebelum Israel mengenal hari ketujuh, melainkan apakah mereka memiliki konsep yang benar-benar setara dengan Sabat Israel sebagaimana digambarkan dalam Taurat. Jawaban akademis yang paling jujur adalah: ada kemiripan struktural, tetapi tidak ada padanan yang identik.[^1]
Dalam Kitab Suci Ibrani, Sabat berasal dari kata שבת (sh-b-t) yang secara harfiah berarti
“berhenti,”
“menghentikan,” atau
“beristirahat.”
Sabat pertama kali muncul dalam narasi penciptaan ketika Tuhan berhenti dari karya penciptaan pada hari ketujuh. Narasi ini memberikan dasar teologis bahwa ritme kerja dan istirahat bukan sekadar kebutuhan biologis manusia, melainkan bagian dari tatanan kosmis. Akan tetapi, banyak sarjana modern menilai bahwa formulasi teologis ini kemungkinan merefleksikan proses pemikiran yang berkembang belakangan, bukan otomatis bukti bahwa praktik Sabat dimulai sejak masa paling awal Israel.[^2]
Perhatian para sejarawan kemudian tertuju pada Mesopotamia, khususnya Babilonia dan Asyur. Di sana ditemukan istilah Akkadia šapattu atau sabattu, yang secara fonetik sangat mirip dengan kata Ibrani shabbat. Kemiripan bunyi ini mendorong sejumlah assyriologist awal untuk menduga bahwa Sabat Israel mungkin berasal dari Babilonia. Dalam sejumlah teks kalender Babilonia, hari-hari tertentu dalam bulan lunar—terutama hari ke-7, 14, 21, dan 28—ditandai sebagai hari khusus ketika aktivitas tertentu dibatasi, terutama bagi raja dan para imam.[^3]
Pada hari-hari tersebut, penguasa kadang dilarang makan makanan tertentu, mengganti pakaian kerajaan, mempersembahkan korban tertentu, atau mengambil keputusan politik penting. Dengan kata lain, terdapat konsep hari tabu berkala yang berulang mengikuti ritme bulan. George Smith, salah satu pelopor studi Asyur abad ke-19, mencatat bahwa larangan-larangan ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari kalender ritual resmi. Fakta ini menunjukkan bahwa dunia kuno memang mengenal gagasan bahwa waktu tertentu memiliki kualitas sakral atau berbahaya.[^4]
Namun, kemiripan ini tidak boleh dibesar-besarkan. Sebagian besar akademisi modern menolak menyamakan šapattu Babilonia secara langsung dengan Sabat Israel. Roland de Vaux menegaskan bahwa hari-hari khusus Babilonia lebih tepat dipahami sebagai hari tabu ritual, bukan hari istirahat universal. Hari-hari itu terutama mengikat elit istana dan pemuka agama, sedangkan rakyat biasa tidak selalu berhenti bekerja. Ini sangat berbeda dari Taurat, di mana Sabat berlaku bagi seluruh masyarakat, termasuk budak, pendatang, bahkan ternak.[^5]
Di sinilah keunikan Sabat Israel mulai tampak jelas. Dalam Taurat, Sabat bukan sekadar ritus kultis, melainkan institusi sosial yang radikal. Kitab Keluaran menyatakan bahwa pada hari ketujuh bukan hanya tuan rumah yang berhenti bekerja, tetapi juga budak laki-laki, budak perempuan, hewan, dan orang asing. Dalam dunia kuno yang sangat hierarkis, gagasan bahwa seorang budak berhak memperoleh hari istirahat berkala merupakan konsep yang luar biasa progresif. Sabat dengan demikian bukan hanya ritual religius, tetapi juga mekanisme pembatas kekuasaan ekonomi.[^6]
Selain Mesopotamia, para peneliti juga meneliti Mesir, Ugarit, dan wilayah Kanaan untuk mencari paralel Sabat. Hasilnya relatif konsisten: belum ditemukan bukti kuat mengenai sistem hari istirahat mingguan tujuh harian yang menyerupai Sabat Israel. Mesir kuno mengenal kalender ritual dan festival musiman, sementara Ugarit memiliki berbagai perayaan kuil, tetapi tidak ada indikasi jelas tentang kewajiban berhenti bekerja setiap tujuh hari. Kekosongan data ini memperkuat pandangan bahwa bentuk final Sabat memang berkembang khas dalam tradisi Israel.[^7]
Sebagian sarjana berpendapat bahwa bentuk Sabat yang kita kenal justru semakin dipertegas pada masa pembuangan Babel abad ke-6 SM. Saat identitas nasional Israel runtuh akibat penaklukan Babilonia, praktik-praktik komunal seperti sunat, hukum makanan, dan Sabat menjadi penanda identitas yang sangat penting. Dalam konteks diaspora, Sabat berubah dari sekadar ritme ibadah menjadi simbol keberlangsungan perjanjian antara YHWH dan Israel. Karena itu, banyak akademisi melihat masa pembuangan sebagai periode penting dalam kristalisasi teologi Sabat.[^8]
Abraham Joshua Heschel menawarkan perspektif yang sangat berpengaruh ketika ia menyebut Sabat sebagai “katedral dalam waktu.” Menurutnya, perbedaan utama Sabat Israel dari tradisi kuno lain terletak pada fokusnya. Jika banyak peradaban kuno menguduskan ruang—kuil, altar, gunung—maka Israel secara radikal menguduskan waktu. Kesakralan tidak lagi hanya melekat pada tempat, melainkan pada ritme kehidupan. Ini merupakan inovasi religius yang sangat mendalam.[^9]
Dengan demikian, pertanyaan apakah Sabat sudah ada sebelum Israel perlu dijawab secara hati-hati. Jika yang dimaksud adalah konsep hari khusus berkala, maka jawabannya adalah ya—bangsa-bangsa seperti Babilonia sudah mengenalnya. Namun jika yang dimaksud adalah Sabat sebagaimana dikenal dalam Taurat: hari ketujuh yang kudus, wajib, universal, sosial, dan teologis, maka bukti historis menunjukkan bahwa bentuk tersebut berkembang secara khas di dalam tradisi Israel. Singkatnya, Israel mungkin tidak menciptakan gagasan “hari berkala,” tetapi merevolusi maknanya.[^10]
Catatan Kaki
[^1]: John Day (ed.), Temple and Worship in Biblical Israel (London: T&T Clark, 2005).
[^2]: Anchor Yale Bible Dictionary, entri “Sabbath.”
[^3]: Dictionary of Deities and Demons in the Bible, entri “Sabbath.”
[^4]: George Smith, The Chaldean Account of Genesis (London: Sampson Low, 1876).
[^5]: Ancient Israel.
[^6]: Book of Exodus 20:8–11; 23:12.
[^7]: Ancient Near Eastern Thought and the Old Testament.
[^8]: A History of the Jewish People.
[^9]: The Sabbath.
[^10]: From Sabbath to Lord’s Day.
