Mari kita bahas asal-usul atau etimologi kata Injil yang sebenarnya berasal dari Yunani bukan dari Arab. Ini adalah kata yang sering dipakai dalam perdebantan lintas agama, khususnya oleh Kristen dan Islam.
Kata Injil merupakan salah satu istilah religius yang paling dikenal di dunia Abrahamik, tetapi asal-usul linguistiknya sering kali kurang dipahami. Dalam penggunaan modern di Indonesia, kata ini umumnya merujuk pada kitab suci umat Kristen atau berita tentang kehidupan dan ajaran Yeshua of Nazareth. Namun secara historis, kata “Injil” bukan berasal dari bahasa Arab asli, melainkan merupakan hasil perjalanan panjang lintas bahasa dan lintas peradaban, dari dunia Yunani ke Timur Tengah, lalu masuk ke tradisi Arab dan bahasa-bahasa modern, termasuk bahasa Indonesia.[^1]
Secara etimologis, bentuk paling awal yang dapat dilacak adalah kata Yunani εὐαγγέλιον (euangelion). Kata ini tersusun dari dua unsur: εὖ (eu) yang berarti “baik” atau “baik sekali,” serta ἄγγελος (angelos) yang berarti “pembawa pesan” atau “utusan.” Secara harfiah, euangelion berarti “kabar baik” atau “berita gembira.” Dalam dunia Yunani kuno, istilah ini tidak semula bersifat religius. Kata tersebut dapat digunakan untuk berita kemenangan perang, pengumuman kelahiran pewaris takhta, atau kabar yang membawa sukacita bagi publik.[^2]
Penggunaan euangelion memperoleh dimensi politik yang penting pada era Romawi. Prasasti terkenal dari Priene di Asia Kecil (9 SM) menggunakan istilah ini untuk merayakan kelahiran Kaisar Augustus sebagai “kabar baik bagi dunia.” Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa ketika para penulis Perjanjian Baru memakai kata euangelion, mereka sedang menggunakan istilah yang telah memiliki muatan sosial-politik yang kuat. Dengan demikian, pemberitaan tentang Yeshua sebagai “Injil” bukan hanya kabar religius, tetapi juga pernyataan tandingan terhadap klaim ideologis kekaisaran Romawi.[^3]
Di dalam naskah Yunani Perjanjian Baru, euangelion mula-mula tidak menunjuk pada sebuah buku atau kitab, melainkan pada pesan. Misalnya dalam Kitab Marqaws 1:1, istilah ini dipakai untuk menyatakan “permulaan Injil tentang Yeshua Sang Mesias.” Dalam konteks ini, Injil berarti proklamasi atau berita keselamatan, bukan empat kitab tertulis seperti yang dikenal kemudian. Baru dalam perkembangan jemaat awal, istilah Injil mulai diasosiasikan dengan narasi tertulis mengenai kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yeshua.[^4]
Narasi pengajaran Yeshua yang tentang Kabar Baik ini juga ada hubungannya dengan pengajaran kaum Yahudi saat itu yang mengajarkan pembunuhan bangsa lain, pembunuhan bangsa sendiri, penjarahan, berbagai tumbal hewan untuk menghapus dosa, sampai kepada beragam hukuman mati dalam Hukum Taurat. Jadi, saat Yeshua mengajar ajaran yang asing di telinga Yahudi, ada perbedaan yang mencolok. Hukum Taurat itu penuh dengan ajaran yang membawa pada ketakutan, ajaran Yeshua membawa kedamaian. Itulah mengapa ajaran-Nya disebut Kabar Baik. Sesuatu yang baik tidak kelihatan baik jika tidak ada yang buruk.
Sebelum masuk ke bahasa Arab, istilah Yunani ini terlebih dahulu melewati dunia Semitik Kristen, terutama melalui bahasa Suryani-Aramaik. Dalam tradisi Suryani, euangelion diterjemahkan sebagai ܐܘܢܓܠܝܘܢ (awongeliyon / ewangeliyon), suatu bentuk fonetik yang masih jelas memperlihatkan akar Yunani aslinya. Bentuk Suryani ini sangat penting, sebab komunitas Kristen Arab awal hidup berdampingan erat dengan komunitas Suryani di Suriah, Mesopotamia, dan Jazirah Arab bagian utara. Banyak istilah teologis Arab awal masuk melalui jembatan Suryani, bukan langsung dari Yunani.[^5]
Dari sinilah muncul bentuk Arab إنجيل (Injīl). Mayoritas filolog modern sepakat bahwa kata Arab ini merupakan kata serapan, bukan kosakata Arab murni. Perubahan fonetik dari euangelion menuju injīl memang terlihat cukup besar, tetapi transformasi seperti ini lazim dalam proses peminjaman lintas bahasa. Huruf vokal disederhanakan, gugus konsonan yang sulit diucapkan diadaptasi, dan bentuk akhirnya diselaraskan dengan pola fonologis Arab. Hasilnya adalah kata Injīl, yang kemudian diterima luas di dunia Arab Kristen maupun Islam.[^6]
Ketika kata ini muncul dalam Quran, maknanya mengalami pergeseran penting. Dalam Al-Qur’an, Injil dipahami sebagai kitab atau wahyu yang diberikan kepada Isa, bukan terutama sebagai “kabar baik” dalam arti proklamasi seperti dalam Kekristenan awal. Di sinilah terjadi perbedaan semantik yang signifikan. Tradisi Kristen mula-mula memahami Injil sebagai berita keselamatan yang diumumkan, sedangkan penggunaan Qur’ani cenderung memahaminya sebagai kitab suci yang diturunkan. Perbedaan ini menjadi salah satu titik dialog penting antara studi Islam dan studi Kristen.[^7]
Dalam bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia, kata “Injil” masuk melalui jalur Arab dan tradisi Islam, sebelum dipakai luas dalam terjemahan-terjemahan Kristen. Menariknya, masyarakat Indonesia jarang menyadari bahwa kata yang kini terasa sangat “lokal” sebenarnya membawa warisan tiga dunia besar sekaligus: Yunani, Suryani-Aramaik, dan Arab. Hal ini menunjukkan bahwa kosakata religius sering kali menjadi jejak perjalanan intelektual antarperadaban yang panjang dan kompleks.[^8]
Secara filologis, hampir tidak ada perdebatan serius di kalangan akademik mengenai akar Yunani kata Injil. Perdebatan yang lebih sering muncul justru berkaitan dengan jalur transmisinya: apakah Arab menyerapnya langsung dari Yunani atau melalui perantara Suryani. Banyak sarjana condong pada opsi kedua karena bukti historis menunjukkan bahwa komunitas Kristen Arab pra-Islam memiliki interaksi sangat intens dengan gereja-gereja berbahasa Suryani. Dengan demikian, Suryani kemungkinan memainkan peran sentral dalam pembentukan bentuk Arab Injīl.[^9]
Pada akhirnya, sejarah kata Injil menunjukkan bahwa sebuah istilah religius dapat mengalami perubahan makna yang besar tanpa kehilangan inti identitasnya. Dari Yunani euangelion sebagai “kabar baik,” ke Suryani sebagai istilah liturgis gerejawi, ke Arab sebagai nama kitab suci, hingga ke Indonesia sebagai istilah sehari-hari, kata ini telah menempuh perjalanan lintas abad dan lintas budaya. Karena itu, memahami asal-usul kata Injil bukan sekadar studi etimologi, melainkan juga jendela untuk melihat bagaimana ide-ide keagamaan bergerak, diterjemahkan, dan dihidupi oleh berbagai komunitas manusia.[^10]
Catatan Kaki
[^1]: Anchor Yale Bible Dictionary, entri “Gospel.”
[^2]: A Greek-English Lexicon, entri “εὐαγγέλιον.”
[^3]: The New Testament in Its World, hlm. 153–156.
[^4]: Dictionary of Jesus and the Gospels, entri “Gospel.”
[^5]: An Introduction to Syriac Studies.
[^6]: The Foreign Vocabulary of the Qur’an.
[^7]: Encyclopaedia of the Qur’an, entri “Injil.”
[^8]: Kamus Besar Bahasa Indonesia, entri “Injil.”
[^9]: The Bible in Arabic.
[^10]: The Text of the New Testament.
